“Ayo cepet mandi, besok Mama ajak liat manten.”
“Maem yang banyak, biar kuat liat manten,” dan lain-lain yang harus aku kerjakan supaya diajak liat manten hari Minggu kemarin.
Liat manten memang salah satu kegiatan favoritku selain menyanyi dan berjoget. Bagiku, manten itu sosok yang lucu karena dandanan mereka berbeda dengan orang lain.
“Besok liat mantennya Om Didit ya Ma?” tanyaku.
“Bukan, A. Yang jadi manten itu Om Anton,” jawab Mama. Mantennya Om Didit – sepupunya Bapak - adalah acara manten terakhir yang kulihat setahun lalu.
Minggu pagi, setelah semua siap, kami pun berangkat.
“Ini mau liat manten ya Ma?” tanyaku setelah mobil melaju.
“Iya, tapi ke rumah Tante Manda dulu ya,” jawab Mama.
Tante Manda? Oh aku ingat… Tante manda
Sepanjang perjalanan udara panas sekali, AC mobil gak kerasa blas. Adik Vanya rewel, gak bisa bobok. Aku sih sebenernya juga kepanasan, tapi semangatku untuk liat manten mengalahkan segalanya.
Akhirnya kami sampai juga di rumah Tante Manda. “Halo Aksa,” sapa Tante Manda dan langsung duduk di sampingku. Waduh…mobil langsung terasa full pressed body neh, hehehe. Gak lama kami pun sampai di gedung tempat manten.
Awalnya, mama-bapak duduk berdekatan tapi gak lama mereka harus berpisah karena menurut panitia, tempat laki-perempuan dipisah (walau pada jam-2 terakhir aturan itu gak berlaku lagi). Akhirnya, aku ikut bapak, mama sama adik. Aku mulai kelaparan. Bapak memberiku kue. Lalu aku haus karena ternyata panitia tidak menyediakan minuman. Akhirnya aku dan Bapak terpaksa turun ke bawah mengambil botol minuman di dalam mobil.
Setelah lama menunggu, mantennya pun datang. Hatiku pun senang. “Om Antonnya lucu jadi manten. Da dah Om Anton,” kataku sambil melambaikan tangan saat pengantin melintas. “Pak, Aa mau duduk sama manten,” rengekku pada Bapak.
“Hussss…nggak usah. Jauh…” jawab bapak.





