Tuesday, June 03, 2008

Do Not Listen To the Barking Dog

"Kemarin ada orang nanya, Bu. Kok mas-nya Vanya gak pernah keluar rumah ya?” cerita Iyu’ ke mama tadi pagi.

“Oya?” tanggap mama. “Trus katae lagi, Aksa gak pernah keluar rumah tuh gak dibolehin mamanya ta?” lanjut Iyu’. “Boleh kok sama mamanya. Anaknya aja yang emang gak mau keluar rumah. Saya jawab gitu Bu,” sambung Iyu’ lagi.

Mama tersenyum kecut. “Ya, beberapa tetangga sini nyangkanya aku yang gak bolehin Aa main ke luar. Padahal sampean (Anda, Red)tahu sendiri, aku dah nyuruh-nyuruh Aa sampai elek, tapi anaknya emang gak seneng di luar, trus mau diapain lagi?” urai mama.

“Dulu bahkan pernah ada yang ngomong langsung ke aku. Pas dia lagi lewat depan rumah, nyapa Aa yang lagi di teras. Trus ngomong, kok kamu gak pernah keluar rumah sih…gak boleh ya sama mamamu…. Gitu lho. Aku diem aja. Malas nanggapin,” sambung mama.

Aku emang gak seneng main di luar rumah. Bukan karena mama gak bolehin aku tapi…sepertinya aku belum merasa nyaman dan belum berani di luar kalau nggak ada yang nemenin. Mama sih gak bosen-bosennya nyuruh aku main di luar.

“Itu loh A…ada Mas Safir. Itu loh A main di rumahnya Mas Arya. Itu loh A Mbak Tyas main petak umpet” dan lain-lain usaha mama untuk merayuku agar mau main di luar.

Kadang mama agak sedih juga ngeliat aku yang senengannya ngutak-atik seisi rumah dibanding main di luar. Sebab, mama tahu betul bermain di alam terbuka untuk anak seusiaku sangat penting dan sangatlah mendukung sisi kecerdasanku gak cuma inteletual tapi juga emosional dan sosial.

Sesekali aku mau juga sih main di luar, tapi jarang. Kalau kata Tik Ndo Ndo (ibunya Bapak) sih masalah itu ada keterkaitannya dengan faktor genetik. (baca : Like Father Like Son at next edition).

Akhirnya mamaku sih pasrah aja. “Lha wong anaknya emang gitu, mosok ya harus dipaksa…malah ga baik,” kata mama. “Lagipula every child is unique, so is my son. Let him grow as himself,” sambung mama lagi. Yang penting, mamaku – seperti juga orang tua normal lainnya – akan selalu berusaha do the best for her kids. Jadi, ngapain dengerin omongan orang yang gak ngerti permasalahan??? Do not listen to the barking dog, just listen to your heart (kayak lagunya Roxette aje…)

Monday, May 26, 2008

My Uniform

“Ikut mama yuk A, ngambil seragammu di sekolah,” ajak mama. “Ayo Ma,” sambutku bersemangat. “Nanti seragamnya ada bolongannya ya Ma?” tanyaku. “Ya, nanti bilang ke tukang jahitnya, minta bolongan untuk tempat ikat pinggang,” jawab mama. Wahhhh… akhirnya, nanti aku akan punya seragam yang ada bolongan sabuknya seperti punya bapak. Pasti aku bakal tambah ganteng kayak bapak kalo pake seragam itu. Sudah sejak lama aku mendambakan punya celana yang memiliki tempat ikat pinggang. Bahkan aku sering iseng mencoba memasukkan ikat pinggang ke celana kerja bapak kalo lagi pas nggak dipakai.

Beberapa hari kemudian, mama, aku dan tante Winda (pegawainya mama) pergi ke penjahit. Ternyata penjahit yang dituju gak bisa terima order karena sakit. Kami muter-muter nyari penjahit di sekitar Jalan Panca Warna. Akhirnya, diantar mamak-bapaknya tante Winda, Bagas plus Rere kami menuju ke penjahit di kampung Petiken. KAmpung ini sudah tidak termasuk wilayah Perumahan Kota BAru Driyorejo Gresik. “Oalah Aa, nyari penjahit seragammu aja yang nganterin sekampung,” kata mama tersenyum.

Sesampainya di penjahit. “Ayo sini diukur,” kata om penjahit. “Emoh!” teriakku langsung menghindar. Aku merasa aneh sama om penjahit ini karena membawa “tali” (alat ukur, Red). “Ayo Aa dikur, nanti seragamnya gak bisa dijahit,” kata mama dan tante Winda. “Aa ndak mau,” aku bersikeras. “Ya sudah, mamanya aja yang ngukur,” kata om penjahit sambil menyerahkan “tali” aneh itu ke mama. Mama menempelkan “tali” itu ke beberapa bagian tubuhku mulai dari bahu, dada, kaki. “Emoh Ma. Aa jangan diikat,” kataku memeluk mama ketika mama hendak melingkarkan “tali” itu ke antara dua kakiku. Tak ayal, semua tertawa. “Mama nggak ngikat Aa, ini namanya ngukur,” jawab mama. “Udah Ma, jangan. Yang diukur pipi sama rambut Aa aja,” kataku. Huahaha…semua tertawa lagi.

Wednesday, May 21, 2008

I Love the Bride

Sejak beberapa hari yang lalu, mama dan bapak sering mengiming-imingiku ; “Hayo Aa jangan ganggu adik, nanti gak diajak liat manten loh.”

“Ayo cepet mandi, besok Mama ajak liat manten.”

“Maem yang banyak, biar kuat liat manten,” dan lain-lain yang harus aku kerjakan supaya diajak liat manten hari Minggu kemarin.

Liat manten memang salah satu kegiatan favoritku selain menyanyi dan berjoget. Bagiku, manten itu sosok yang lucu karena dandanan mereka berbeda dengan orang lain.

“Besok liat mantennya Om Didit ya Ma?” tanyaku.

“Bukan, A. Yang jadi manten itu Om Anton,” jawab Mama. Mantennya Om Didit – sepupunya Bapak - adalah acara manten terakhir yang kulihat setahun lalu.

Minggu pagi, setelah semua siap, kami pun berangkat.

“Ini mau liat manten ya Ma?” tanyaku setelah mobil melaju.

“Iya, tapi ke rumah Tante Manda dulu ya,” jawab Mama.

Tante Manda? Oh aku ingat… Tante manda kan yang rambutnya kayak daun.

Sepanjang perjalanan udara panas sekali, AC mobil gak kerasa blas. Adik Vanya rewel, gak bisa bobok. Aku sih sebenernya juga kepanasan, tapi semangatku untuk liat manten mengalahkan segalanya.

Akhirnya kami sampai juga di rumah Tante Manda. “Halo Aksa,” sapa Tante Manda dan langsung duduk di sampingku. Waduh…mobil langsung terasa full pressed body neh, hehehe. Gak lama kami pun sampai di gedung tempat manten.

Awalnya, mama-bapak duduk berdekatan tapi gak lama mereka harus berpisah karena menurut panitia, tempat laki-perempuan dipisah (walau pada jam-2 terakhir aturan itu gak berlaku lagi). Akhirnya, aku ikut bapak, mama sama adik. Aku mulai kelaparan. Bapak memberiku kue. Lalu aku haus karena ternyata panitia tidak menyediakan minuman. Akhirnya aku dan Bapak terpaksa turun ke bawah mengambil botol minuman di dalam mobil.

Setelah lama menunggu, mantennya pun datang. Hatiku pun senang. “Om Antonnya lucu jadi manten. Da dah Om Anton,” kataku sambil melambaikan tangan saat pengantin melintas. “Pak, Aa mau duduk sama manten,” rengekku pada Bapak.

“Hussss…nggak usah. Jauh…” jawab bapak.

blogger templates | Make Money Online